fococlipping-20220104-191657

PUBLIKASI

Reassessing the Viability of Marine Hull Insurance

9 March 2026

|

  • Pertumbuhan kontribusi transportasi laut terhadap PDB mencerminkan peran strategis industri perkapalan Indonesia sekaligus meningkatnya aktivitas pelayaran nasional. Namun, hal ini juga diiringi kenaikan profil risiko akibat tingginya intensitas penggunaan armada, meningkatnya jumlah kapal, dan struktur usia kapal yang relatif menua. Kondisi tersebut tidak hanya membuka peluang pasar bagi asuransi marine hull, tetapi juga menuntut underwriting yang lebih selektif serta penetapan premi yang disesuaikan dengan tingkat risiko agar keberlanjutan portofolio tetap terjaga.
  • Kecelakaan kapal secara administratif bertambah 37,6% pada 2024 dibandingkan tahun sebelumnya, dengan dominasi faktor teknis dan alam serta insiden berisiko tinggi seperti kebakaran dan kapal tenggelam. Perkembangan ini mencerminkan tingginya eksposur risiko maritim dan potensi tekanan terhadap sistem logistik nasional serta biaya proteksi asuransi marine hull.
  • Pangsa pasar asuransi marine hull di Indonesia tercatat sebesar 3,2% dari total asuransi umum, dengan pertumbuhan premi yang masih menunjukkan tren positif. Namun demikian, apabila memperhitungkan komponen cadangan klaim, potensi loss ratio dalam tiga tahun terakhir telah berada di atas 90%. Kondisi ini menegaskan bahwa asuransi marine hull merupakan lini bisnis dengan eksposur kerugian bernilai besar dan margin underwriting yang relatif tipis, sehingga memerlukan penguatan manajemen risiko, optimalisasi program reasuransi, serta disiplin underwriting yang lebih ketat guna menjaga keberlanjutan kinerja industri.
  • Secara struktural, eksposur underwriting asurnasi marine hull Indonesia berada di kawasan dengan tingkat kehilangan kapal tertinggi secara global, baik akibat tenggelam, kandas, maupun kebakaran, di mana Asia Tenggara mencatat 169 kasus dalam satu dekade terakhir.
  • Pasar Nordik sebagai benchmark global dalam industri asuransi marine hull menguraikan beberapa lesson learned diantaranya: (1) Tren klaim asuransi marine hull terus meningkat dan bersifat structural; (2) Adanya pergeseran risiko marine hull menjadi severity-driven; (3) Machinery menjadi kontributor utama kenaikan severity. Klaim machinery berpotensi menjadi structural loss driver bagi industri asuransi marine hull; (4) Idle vessel berpotensi menciptakan asymmetric risk exposure bagi asuransi marine hull.
  • Keberlanjutan kinerja asuransi marine hull di Indonesia masih memerlukan penguatan manajemen risiko yang lebih komprehensif, peningkatan standar kelayakan dan operasional kapal, serta underwriting yang lebih selektif.
0001

9 March 2026

Reassessing the Viability of Marine Hull Insurance

Penulis :

Ibrahim Kholilul Rohman, Rosi Melati, Nada Serpina, Ezra Pradipta Hafidh, Nabila Fakhrin Nisa, Ashrina Qurrotu A’yunina,Nourul Kharomah